5.5 Tahun Jakartaku

Hai, perkenalkan namaku Tutu. Panggil saja begitu. Aku bercerita dari sudut pandang ku. Tentang aku dan Jakarta. Tentang aku dan beberapa ikatan ku yang tak pernah bisa melepas Jakarta. Ini hanya aku dan Jakarta.


Aku datang ke Jakarta setelah lulus sekolah. Tak sendiri tentunya. Aku datang bersama kekasihku yang aku cintai. Kami yang saling mencintai. Catat itu. Bagaimana tidak ? Kami merintis berdua bersama. Datang ke Jakarta belum punya apapun, bekerja untuk meniti karir. Kami satu kantor. Satu tempat tinggal. Begitu dekat bukan? 
Perjalanan cintaku banyak lika-liku. Aku sering mengedepankan egoku. Aku pikir, karena dia pria dia harus kuat. Dia harus bisa menuruti semua apa mauku. Dia, harus dengan tuntutan-tuntutanku lainnya. Mulailah muncul satu demi satu pertikaian. Tetapi tetap, karena kami saling mencintai, aku dan dia bisa bertahan. 
Aku menyayanginya, diapun begitu. Buktinya, ketika aku sakit dia rela memijatku. Sakitku bukan sakit sembarangan, sakitku karna hal lain. Aku melihat kesungguhannya. Aku sayang dia.
Karena kami saling merintis bersama dari belum punya apa-apa hingga akhirnya mampu, aku merasa dialah suamiku. Kami terasa seperti sepasang kekasih yang akan menuju pelaminan. Nantinya. Apalagi, orang tuaku, orang tua dia sudah saling mengenal. Jangan tanya kedekatanku dengan ibunya, aku adalah yang dicari-cari jika kekasihku tak ada kabar. Sudahlah, bayangkan saja betapa siapnya kami jika harus menjadi sebuah keluarga. 
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun. Ya, tahun-tahun ini hubungan kami tak baik. Dia sering melirik yang lain. Yang aku sadari dan pahami, mungkin dia sedang jenuh. Tapi aku tak sanggup, akhirnya aku sering marah. Berujung pertengkaran. Walaupun akhirnya akan redam sendiri tanpa komunikasi. Mungkin itu yang akhirnya menumpuk, hingga akhirnya menjelang 3.5 tahunku. Dia memutuskan untuk berpisah denganku. 
Kau tau rasanya tiba-tiba hujan petir kala siang cerah. Ya, itu rasanya hatiku. Posisiku saat itu, aku tidur dirumahnya. Aku tak sanggup menahan tangisan menjelang tidur. Mungkin orang tuanya tau. 
Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan. Tapi aku tau, ternyata dia ada yang lain di hatinya dan aku benar-benar tak ada lagi. Kenangan-kenangan kami, entah mengapa terasa cepat sekali dia hapuskan. Aku rindu genggaman tangannya. 
Aku mencoba mencari tau, dan dia yang baru adalah teman kami. Mengapa? Mengapa harus dia? 


Tapi aku tak peduli sekarang, ikatanku sudah hilang dengan Jakarta. Aku sekarang sudah ada yang baru dan aku meninggalkan Jakarta. Aku pergi dari Jakarta. Jalanan-jalanan yang pernah aku lalui bersama dia, aku hanya ingat sederhana tanpa rasa. 3.5 tahunku bersamanya, cukup untuk kujadikan pelajaran saja.

Popular Posts